Tampilkan postingan dengan label partaipolitik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label partaipolitik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 April 2014

Lika-Liku Perjalanan Demokrasi di Pemilu 2014

Dari sekian banyak berita yang saya dengar dan lihat dalam beberapa pekan ini membuat saya berpikir banyak tentang apa yang terjadi di Negara indonesia tercinta. Hal menarik yang membuat saya berpikir keras adalah tentang topik prabowo vs jokowi dan dengan kata lain pdip vs gerindra. 

Ada banyak cerita yang saling menyerang dengan menjelek-jelekkan satu sama lain tanpa melihat etika dan bahkan data dan fakta. Perjanjian batu tulis yang dilayangkan gerindra dengan dalil pdip melanggar komitmen bahkan sampai kepada negative campaign yang dilakukan gerindra dan mungkin juga pdip. Ya mungkin bagi kalangan politisi dan praktisi parpol, hal ini merupakan hal yang biasa dan halal, tapi sayang bagi saya hal tersebut menjadi adalah hal yang memalukan, tidak berkelas dan sangat mencederai demokrasi. 

Mulai dari batu tulis yang dimana gerindra menuding pdip melanggar komitmen yang disepakati di tahun 2009 lalu. Saya tidak tahu persis masalahnya di mana dan apa yang membuat perjanjian ini begitu dimunculkan dengan sindiran-sindiran dari salah satu kader gerindra. Setelah melihat tayangan youtube di acara debat yang ditayangkan tv one, saya menangkap kesan aneh, di mana gerindra tidak mempermasalahkan hal itu, tapi tetap menyerang dengan tuduhan melanggar komitmen dan dihubungkan dengan banyak hal. Kalau tidak jadi masalah, kenapa dipermasalahkan? Itu yang membuat saya tidak habis pikir mengapa bisa demikian. 

Masalah lainnya adalah tentang topik negative campaign yang juga saya lihat sari youtube yang dilakukan oleh 4 partai besar yang di mana gerindra dan pdip masuk di dalamnya. Beberapa isu telah saya baca dari beberapa sumber (mesti semua sumber), ada banyak hal yang diungkapkan tidak berdasar data dan fakta yang saya rasa benar. Misal tentang prabowo dengan isu tragedi 98, sampai sekarang tidak pernah ada data yang mengungkap siapa dalang sebenarnya. Selalu isu simpang siur yang di utarakan di dalam sebuah kampanye untuk menjatuhkan calon lain. Masalah lain isu gagalnya pemerintahan megawati atas penjualan pulau dan juga beberapa bumn lainnya. Data lain menyebutkan bahwa penjualan itu semua juga tidak lepas dari peran  MPR. Dan lagi selalu isu dimunculkan di topik yang tidak pernah jelas kebenarannya. Apakah ini politik sehat? Saya rasa hal ini sangat memlaukan dan mencederai semangat demokrasi.

Dan tentunya masih banyak topik yang digunakan untuk menyerang calon lain yang tidak perlu saya sebutkan semuanya karena akan sangat panjang. Hal ini bisa dicari di dalam berita seperti kompas.com, detik.com, dan juga media lain yang kompeten dan dapat dipertangggung-jawabkan kebenarannya.

Ok, lupakan sejenak hal di atas dan beralih kepada pemikiran saya sebagai orang awam. Saya sangat salut dan respek kepada megawati yang di mana mencalonkan kadernya yang sangat dicintai rakyat. Di mana hal ini bisa saja dilakukan karena permintaan rakyat dan juga beliau sadar akan kesalahan di masa lalu (kalau benar begitu) dan juga karena beliau sadar akan kapasitas jokowi jauh di atas dirinya. Harusnya hal ini ditiru oleh prabowo, di mana beliau punya kader yang sangat hebat dan saya rasa kualitasnya di atas prabowo, yaitu, ahok. Sama seperti megawati, harusnya prabowo sadar akan titik lemah dan kesalahan beliau di masa lalu (kalau benar begitu) dan mulai menyerahkan ke kader yang belum memiliki celah dan cacat di masa lalunya, sehinnga rakyat bisa melihat sosok prabowo yang tidak ambisi jabatan, sama persis dengan tuduhan yang ditujukan ke megawati beberapa waktu silam sebelum dimunculkannya jokowi.

Dua partai saja membuat pusing belum lagi manuver dari partai lain. Hancurnya suara demokrat yang dimana menjadi penguasa di 2 periode sebelumnya, dan juga lika-liku isu dimunculkannya lagi koalisi poros tengah dengan gabungan partai berbasis agama. Ya hal yang akan membuat seru dalam beberapa bulan ke depan yang di mana sudah banyak prediksi yang muncul dari para ahli politik dan juga ahli dibidang lain tentang hal ini. Dan terlalu panjang untuk saya tulis semuanya dalam 1 halaman ini.

Lupakan dulu sejenak masalah lika-liku yang ada dan kembali kepada pemikiran sederhana saya sebagai orang awam. Pada dasarnya semua parpol menyerukan suara rakyat dan memang benar dan tidak dapat disangkal lagi. Cuman yang jadi masalah suara rakyat yang mana? Sedangkan suara rakyat menurut sepengetahuan saya adalah keadilan sosial dan kesejahteraan. Kalau semau partai mengusung semangat suara rakyat, mengapa ke 2 hal tersebut tidak pernah terjadi? Saya rasa partai politik sedang salah mendengar suara rakyat Indonesia dan sedang mendengar rakyat dari negara maju yang sudah tidak perlu dipikirkan kesejahteraannya lagi dengan seksama. Saya rasa indonesia baru tidak akan bisa bersaing dalam perdagangan bebas kalau hal di atas tetap saja terjadi dan berulang di dalam setiap pemilu.


Salam damai dari saya,
Oss 

Rabu, 26 Maret 2014

Belajar Dari Pengalaman dan Sejarah Yang Pernah Ada Di Indonesia

Sekali lagi sebagai orang awam saya akan mencoba menulis dari segi sejarah yang saya tahu atas dasar saya menyerukan anti akan 3 nama parpol yang sengaja tidak saya sebut namanya guna menghindari tuduhan pencemaran nama baik dan hallain yang di atur di undang-undang. Dan dari sejarah pula yang membuat saya sampai hariini tidak berpihak kepada satu parpolpun, mesti parpol pengusung calon presiden terbaik saat ini, jokowi. 

Kita mulai dari partai pertama yang di mana notabene pernah berkuasa lama di masa pemerintahan seorang presiden yang penuh dengan kontroversi. Sejarah mencatat, di masa pemerintahan dia utang negara melonjak tajam sebesar hampir 2.000 triliun dengan hasil hanya membangun jawa dan sebagian bali. Itukah sebuah prestasi? Saya rasa bukan. Hal lain lagi adalah bagaimana sejak dia berkuasa, lihat saja siapa penguasa tambang di Indonesia? Saya rasa sudah bukan rahasia umum lagi bukan? Mengapa demikian? Sejak dia berkuasa menggantikan presiden sebelumnya, undang-undang pertama yang dirubah adalah undang-undang penanaman modal asing. Mencurigakan bukan? Ya bagi saya sangat mencurigakan, di mana presden sebelumnya mati-matian supaya kekayaan alam Indonesia tidak dikuasai asing, dia malah dengan mudahnya melepas kekayaan kepada asing. Inikahprestasi yang layak dengan julukan bapak pembangunan? Saya rasa sangat tidak layak. 

Hal lain yang pernah dibanggakan dan sebuah prestasi yaitu tentang negara swasembada pangan. Eits, tunggu dulu. Apa itu prestasi? Saya rasa tidak. Akibat dari proses swasembada pangan yang instan sangat buruk kepada kualitas tanah. Tanah di banyuwangi sendiri diprediksi hanya akan dalam masa menghasilkan untik 7-10 tahun ke depan bila terus menggunakan pupuk kimia. Ya secara jangka pendek terlihat seperti sebuah prestasi yang membanggakan, tapi jangka panjangnya?. Saya rasa cukup untuk membuat saya anti dengan parpol pengusung presiden 1 ini. Bagaiaman dengan sekarang? Lihat saja bagaimana kualitas ketua umumnya dan kader yang lain, yang dimana saya rasa tidak perlu mengungkap bagaiaman kualitasnya. 

Partai ke dua adalah partai pengusung presiden juga dengan janji-janji manisnya"katakan tidak pada korupsi" dan juga slogan putaran ke 2 dengan "lanjutkan". Kita lihat saja, apa prestasi presden dan partainya? Adakah yang bisa memberi tahu saya prestasi dia sebagai presden dan penasehat partai? Lihat saja di iklan yang bertemakan katakan tidak pada korupsinya, bukankah semua modelnya masuk bui gara-gara korupsi? Lihat saja iklan dia tentang go green yang saya lihat sewaktu perjalanan dari jember ke banyuwangi. Apakah sesuai? Sedangkan data menteri kehutanan tahun 2011 mencatat indonesia kehilangan hutan setiap tahunnya sekitar 11 juta sekian hektar. Dan lagi-lagi janjinya tidak terpenuhi. 

Mungkin prestasi yang dia bisa banggakan adalah penhargaan karena kerukunan umat beragama yang apalah nama penghargaan itu, saya ga peduli. Di mata saya, kerukunan umat beragama di Indonesia adalah omong kosong belaka. Lihat saja bagaimana hukum diinjak-injak dan dilecehkan oleh ormas islam, hukum diinjak-injak oleh kepentingan kaum mayoritas. Apakah itu sebuah prestasi? Mungkin ada satu hal ya yang bisa dia klaim sebagai prestasi, yaitu tentang lepas dari krisis moneter sedang negara-negara maju sedang terkena dampak krisis tersebut. Eits, lagi-lagi tunggu dulu sebelum mengkalum itu sebagai prestasi dia. Indonesia terlepas dari krisis moneter karena pola konsumsi rakyat Indonesia sendiri yang di mana pergerakan uang di dalam negeri yang di dominasi ekonomi kerakyatan sangat kuat sehingga kekuatan makro negara super power tidak bisa membuat goyah perekonomian Indonesia. Sekarang malah keluar undang-undang pajak yang mengharuskan membayar pajak 1% dari omset bagi yang omsetnya di bawah 4,8 milliar. Apakah ini bukan pembunuhan ekonomi kerakyatan yang di mana menjadi tulang punggung Negara ini mampu mengatasi krisis ekonomi? Apakah ini murni kinerja presiden yang di mana faktanya malah menyekik ekonomi kerakyatan? 

Satu lagi yang mungkin kita belum tahu tentang prestasi dia sebagai presiden, yaitu utang negara yang pernah ada sampai sekarang ini menyumbang 54% persen lebih yang berpeluang masih bisa menambahnya di sisa jabatannya yang akan berakhir. Ya bayangkan selama Indonesia merdeka sampai masa dia menjadi presiden. Lihat saja angka stastistik yang sangat menakjubkan, tapi tanpa prestasi yang berarti. Apakah ini sebuah kualitas presiden baik? Malah saya menilai dia merupakan yang terburuk yang pernah ada dalam sejarah Indonesia sampai sekarang. Saya rasa cukup sampai di sini saya sampai anti dengan partai ini sehebat apapun calon presiden yang diusung nantinya. 

Ok, sekarang memasuki partai terakhir yang di mana di masa sekarang ini mengirim 2 menteri yang saya tahu, yaitu menteri pertanian dan menteri komunikasi dan informasi. Ya lihat saja kinerja ke 2 menteri itu seperti apa. Sampai sekarang negara ini menjadi importir beras dan produk pertanian lainnya. Terus yang jadi masalah adalah apa sih kerja menteri ini? Negara yang kaya akan alam, tapi tidak bisa menghasilkan hasil alam yang bagus. Bahkan saya sempat membaca berita yang mempertanyakan kualitas institut pertanian bogor di bawah kepemimpinan dia. Suatu hal yang aneh bila negara yang kaya akan hasil alam malah bergantung pada negara tetangga. Apakah ini prestasi? 

Menteri ke dua yang terkenal dengan kontroversi teknologi internetga perlu cepat-cepat paling nantinya buat dowload bokep. Di mana dia koar-koar memerangi bokep, eh tahunya kader dari partainya tertangkap basah nonton bokep saat sidang di DPR. Yang saya heran sepicik inikah seorang pemimpin yang hadir dari partai agama? Mengapa teknologi hanya dihubungkan dengan sebuah topik pornografi dan porno aksi? Ya saya rasa memang itulah kualitas terbaik yang dipunyai partai ini. 

Tokoh ke 3 adalah masih dari partai yang sama, partai agama yang di mana malah ketua umumnya terjerat kasus korupsi impor sapi. Yah ketua umum korupsi saya rasa bawahannya akan sangat mudah mencontoh teladannya. Hal ini juga berlaku dengan kasus partai ke 2 bukan? Ya saya rasa partai ini dan ke 2 memiliki kualitas yang sama, yaitu partai korupsi. Dan salah satu hal yang mengganggu dari partai ini adalah ideloginya yang saya rasa tidak perlu saya sebut di sini. Kalau penasaran bisa bertanya secara pribadi.

Dari kasus yang ada, masih layakkah ke 3 partai tersebut dipilih dengan dalil mengatasnamakan rakyat? Jujur saja, sampai sekarang saya masih belum pro partai politik. Bagi saya sekarang adalah hanya dengan melihat tokoh yang sangat bisa dibuktikan kualitasnya dan sampai saat ini saya hanya menemukan hal itu dari 3 tokoh saja, yaitu jokowi, ahok, dan risma. Toh kalau kalian memang tidak anti partai politik seperti saya, saya hanya bisa memberi saran pilihlah calon-calon legeslatif yang notabene mengusung salah satu dari ke 3 nama di atas, kecuali diusung dari ke 3 partai politik yang saya maksud di atas. Mesti 3 tokoh itu, saya tidak sarankan memilih, menilik sejarah ya g pernah terjadi di masa lalu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya? Kalau itu buruk mengapa dilanjutkan?

Saya menulis hal ini bukan atas dasar kepentingan partai politik tertentu, saya hanya punya kepentintingan demi Allah dan demi Indonesia. 



Salam Indonesia Baru,

Oss

Rabu, 19 Februari 2014

Dosahkah Golput dimata Hukum dan Tuhan?

Seingat saya,....... hmmm saya belum sekalipun menggunakan hak suara saya sekalipun. Keputusan ini saya ambil bukan tanpa alasan, tapi banyak alasan mengapa saya tidak pernah menggunakan hak saya memilih sama sekali. Banyak alasan dan bagi saya itu adalah hal yang sangat rasional dan sangat pantas.

Alasan pertama adalah dari pengalaman saya semenjak masa sekolah di bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah. Dalam pelajaran ppkn selalu tiangkat bagaimana hubungan antara pancasila, uud45, dan kehidupan masyarat Indonesia secara umum yang di mana saya rasa tidak perlu diungkapkan secara detail, karena saya yakin semua rakyat yang pernah duduk di bangku sekolah tahu dan paham. Sewaktu kecil, yang ada dalam bayangan saya sungguh indahnya kehidupan di negara ini dengan kebhinekaannya dan pancasilanya. Yah, suatu teori ideal bagi kehidupan masyarakat yang sangat majemuk di negara ini. Pada waktu kecil sering saya mendapat candaan dengan sebutan Cino... cino.. cino kamu, ya namanya anak kecil yang belum tahu kejamnya kehidupan sih, saya anggap hal itu adalah suatu yang fun aja, yah semacam bercandalah ya. Dan dengan entengnya, kadang saya membalas dengan jowo.. jowo... jowo kamu.. 

Seiring berjalannya waktu di smp saya juga berpikir dalam kapasitas anak smp tentang hal ini. Sampai suatu saat orang tua saya berkata kepada temannya seperti ini "kita ini minoritas, jadi pilih saja golkar yang netral. Pdi komunis dan ppp adalah partai islam". Tanpa saya sadari perkataan itu melekat dan tidak pernah lupa sampai hari ini. Sempat saya berpikir bahwa apa yang dikatan itu benar, karena bukti dan contoh yang saya dapatkan setalah saya banyak berbicara dengan orang yang jauh lebih dewasa dengan saya waktu itu. Mengapa pdi komunis? Karena di daerah saya, anggota pdi pada waktu itu didominasi para preman, dan itu sama dengan komunis pada masa orde lama dan disingkirkan orde baru. Ppp sudah jelas yah, jadi ga perlu saya paparkan lebih detail. Dari hal ini saya percaya bahwa golkar adalah partai yang netral, sampai pada saat munculnya almarhum gus dur muncul sebagai presiden RI yang katanya penuh kontroversi(lupakan gusdur, karena bukan kapasitas saya untuk membahas tokoh hebat 1 ini). Dari sini saya sadar bahwa golkar yang katanya netral adalah suatu omong kosong belaka. Kalau memang golkar netral mengapa kebudayaan minoritas dilarang? Mengapa belajar bahasa minoritas dilarang? Mengapa rasis demikian kuatnya? Mengapa 32 tahun masa jaya golkar tidak pernah ada perjuangan melawan hal itu? Yah, memang karena itu omong kosong belaka.!! 

Alasan kedua adalah tidak pernah mendapat pendidikan politik baik secara formal maupun informal. Jujur saja, saya mengeri politik dan perkembangannya belum lama. Yang pasti belum lebih dari 5 tahun belakangan ini dengan bekal apatis pada pemerintahan dan partai politik yang busuk dan hancur. Input yang sangat baik dari kecil dengan indahnya pelajaran ppkn ternyata bertolak belakang dengan fakta yang ada. Media selalu penuh prestasi busuk dari dunia pemerintahan dan politik, jadi sebagai warga yang tidak tahu apa-apa tentang politik, saya tumbuh menjadi seperti ini. Menjadi sosok yang selalu golput dan anti parpol. 

Alasan ke tiga adalah asas pemilu yang katanya bebas, umum, dan rahasia ternyata pada hakekatnya adalah bohong belaka. Mengapa? Keluarga saya memang adalah golongan minoritas dan anehnya setiap pemilu, hampir semua orang tahu apa yang keluarga saya pilih padahal tidak pernah cerita ke siapa-siapa. Itu baru keluarga saya saja, keluarga minoritas yang lain bagaimana? Apa ini namanya rahasia?. Dan kaum minoritas selalu diidentikkan dengan golkar yang notabene ada unsur intimidasi dari partai penguasa yang dimana dengan minoritas gabung pdi akan menuju kepada penghakiman komunis. Apa ini bebas? Ya, saya simpulkan adalah asas itu omong kosong. Jadi untuk apa memilih kalau rahasia dan kebebasan kita tidak pernah dimerdekakan? 

Alasan ke empat adalah tidak adanya tokoh dan parpol yang bisa dipercaya. Kalau hal ini tidak perlu dibahas rinci, dan saya yakin seyakin-yakinnya pasti semua rakyat insonesia tahu akan hal ini. Berapa banyak janji-janji manis yang ditepati pada saat sudah menjabat? 

Alasan kelima adalah saya bukan orang yang suka menjilat ludah sendiri dan munafik. Mengapa? Sederhana saja logikanya. Pada saat anda memilih baik presiden dan parlemen, pada dasarnya itu sangat baik. Tapi kemudian setelah menjabat, ternyata bajingan juga mereka, dan anda mengumpat dan bahkab mendemo akan hancurnya kinerja mereka bahkan menyuarakan untuk mundur. Apakah hal itu tidak menjilat ludah sendiri dan munafik? Kalau emang pilihan anda penjahat ya rasakan saja, toh pada nyatanya suara rakyat kecil tidak pernah didengar bukan, apalagi minoritas kecil?

Dari kelima alasan ini saya pernah berkata tidak akan pernah ikut pemilu sampai kapanpun, kalaupun  dipaksa datangm tetap akan saya coblos semua atau kosong, dan saya tidak peduli dengan ancaman hukuman pidana pada golput. Kalau memang golput dosa dan dihukum, bagaimana dengan tikus-tikus, bajingan-bajingan, orang-orang brengsek, koruptor, mafia-mafia di dalam pemeritahan itu? Kalau memang golput dosa, bagaimana dengan mereka? Sudah butakah hukum dan keadilan di bangsa ini?

Dan akhir-akhir ini perkataan saya tentang golput seumur hidup mulai goyah dengan munculnya tokoh-tokoh pengubah bangsa ini seperti, jokowi, ahok, risma, dan juga dahlan iskan. Saya melihat bagaimana kinerja mereka yang begitu luar biasa bagi kota dan organisasi di mana mereka berada. Mestipun sudah muncul 4 tokoh hebat di sana, tetap masih membuat saya mengambil keputusan mutlak apa meningglkan golput atau tetap. Cuman sedikit perubahan muncul, saya akan lepas dari golput bila ke empat nama di atas bisa menjadi calon presiden asal tidak diusung parpol demokrat, golkar, dan pks. Mengapa ke3 partai itu masih tetap membuat golput? Ya lihat saja berita sejak jaman orba sampai sekarang, saya rasa orang cerdas akan tahu hal ini. 

Ya, bagi saya sekarang yang sudah tidak absolut golput adalah munculnya ke 4 nama yang saya sebut di atas sebagai calon presiden tidak perduli dari parpol mana, kecuali ke 3 parpol yang sudah saya sebut. Bukannya menjelekkan atau membela suatu parpol, bagaimanapun sampai sekarang saya masih anti parpol. Silahkan kalau mau menganggap ini sebagai pencemaran nama baik, saya tidak peduli, kapasitas saya hanya berkata sesuai berita yang ada di televisi saja. Kalau memang ini dianggap dosa, biar saya yang menanggumg dosanya di hadapan Tuhan saya. Kapasitas saya sebagai kaum minoritas kecil bangsa Indonesia hanya bisa berkata demi Allah dan demi Indonesia. 

God bless Indonesia 
With love, 

Oss

Sabtu, 11 Januari 2014

Tips Memilih Pemimpin Dalam Sistem Demokrasi Seperti di Indonesia

Setelah berpikir dan melihat kasus dan kejadian yang telah berlalu di Negara ini, saya mempunyai saran dan tips untuk memilih pemimpin dan wakil rakyat supaya tidak tertipu. Hal ini muncul karena pengalaman saya mengamati perhelatan politik dan banyak hal yang terjadi di dalam dunia pokitik di Indonesia. Hal paling mencolok adalah masalah selalu ingkar janji dan korupsi. Kasus terbaru adalah munculnya sebuah dinasti keluarga di dalam pemerintahan. Banyak kasus yang bisa diambil kesimpulan bahwa banyak pejabat itu pembohong dan tidak pernah memikirkan rakyat. Beranjak dari kasus yang ada mungkin tips di bawah ini bisa membantu dalam pemilu ke depan :
  1. Jangan pernah memilih pemimpin yang anggaran kampanyenya sangat besar dan sering nongol di televisi. Kenapa? Karena anggaran besar belum tentu berasal dari kantongnya sendiri sehingga pada saat menjabat perlu mengembalikan semua dana yang keluar kepada peminjam modal kampanye. Toh kalaupun duit sendiri, ga mungkin uang puluhan miliar dan bahkan ratusan di iklaskan begitu saja untuk sebuah pemilu. Jadi kemungkinan untuk korupsi supaya bisa minimal balik modal sangat besar sehingga tidak disarankan memilih calon yang model beginian. 
  2. Jangan pernah memilih pemimpin yang janjinya muluk-muluk. Mengapa? Karena rata-rata yang model beginian jarang banget menepati janjinya. Jadi kemungkinan kita dibohongi sangat besar. Setiap kita harusnya mulai kritis akan daerah masing-masing agar janji tiap calon bisa kita saring mana yang termasuk lebay dan tidak. Harusnya kita juga bergerak, karena yang tahu tentang daerah dan kebutuhannya adalah kita. Jadilah orang cerdas biar tidak selalu dibohongi calon pemimpin. Hehehe
  3. Jangan pernah memilih pemimpin karena wajahnya. Ukuran sebagai seorang pemimpin seharusnya kualitas, bukan tampang doang. Ini terbukti kan?? Hehehe. Kualitas memimpin partai, kualitas mengelola sumber daya yang ada di partai, dan kualitas membangun hubungan juga bisa dijadikan patokan.
  4. Jangan pernah memilih pemimpin yang mengangkat isu SARA. Karena orang seperti itu tidak akan pernah tahu memikirkan kepentingan bangsaanya sebelum merubah ide gilanya yang sangat salah. Mayoritas pemimpin yang dihargai di seluruh dunia adalah mereka yang selalu mengusung pluralisme dan mengusung persatuan. Pengangkat isu SARA pada dasarnya tidak jauh dari antek penjajah, karena SARA adalah alat yang digunakan penjajah untuk memecah belah negara yang dijajahnya sehingga akan sangat mudah menguasainya. So?? Mental seperti ini sama dengan penjajah dan antek-anteknya. 
  5. Jangan pernah memilih pemimpin yang di era sebelumnya jarang nongol dan jarang menunjukkan prestasinya, tiba-tiba saja terkenal lewat media dan alat pencitraan lainnya. Karena mudahnya membuat orang terkenal di bangsa ini, kita harus waspada dan berhati-hati melihat orang yang seperti ini. Karena banyaknya kepentingan dari pihak tertentu dan juga deal tertentu sehingga membuat orang ini menjadi mudahnya terkenal dengan citra yang baik yang belum tentu itu benar adanya. Waspadalah, waspadalah, suatu saat dan mungkin hal ini sudah terjadi. 
  6. Jangan memilih pemimpin yang suka curhat dan dikit-dikit membentuk pengacara pribadi atau keluarganya karena adanya serangan dari pihak lain yang belum tentu itu benar. Karena biasanya orang model begini melakukan apa yang dituduhkan, karena takut terbongkar jadi membuat benteng dahulu. Hehehe
  7. Jangan memilih pemimpin yang pada waktu kampanye membagikan duit. Kenapa? Karena membagikan duit itu adalah tindakan bodoh dan pasti ada masa untuk minimal nalik modal. Dan orang model begini biasanya tidak tulus dalam memperjuangkan kepentingan rakyat. Memang bagi rakyat terlihat peduli dengan membagikan uang yang di mana bisa digunakan untuk memenuhi keperluan. Tapi percayalah setelah menjabat, anda akan merasakan betapa begonya anda karena telah memilih pemimpin model seperti ini. Anda akan merasa tertipu dan sengsara. Mau coba? Buktikan sendiri dan terima resikonya. Karena keputusan ada di tangan anda. 
  8. Pilihlah seorang pemimpin yang mau transparan anggaran dan pendapatan pribadinya. Model seperti ini sudah terbukti kan? Tanpa sebut nama saya rasa sudah banyak yang tahu. Mengapa anggaran dan pendapatan pribadi penting? Karena dengan mereka berani membuka hal itu, percayalah anggaran negarapun mereka siap transparan, karena tidak akan pernah ada celah untuk masuk ke kantong pribadi. 
  9. Pilihlah pemimpin yang rela memberikan no hp pribadinya. Karena pemimpin seperti ini mau mendengar keluhan rakyat sehingga rakyat punya akses langsung dan informasi bisa cepat ditindaklanjuti. 
  10. Pilihlah pemimpin yang tidak takut mati untuk memperjuangkan kepentingan bangsa. Karena pemimpin seperti ini siap memberikan yang terbaik yang dia bisa untuk negara dan kotanya. Nyawa saja siap diberikan apalagi hanya sebuah pengabdian?? Coba pikirkan dan renungkan sendiri.. hehehe
Ini tips dari saya sebagai orang awam yang belajar dari pengalaman selama ini. Dan ingat peran kita mencari informasi dan kebutuhan kota dan bangsa kita juga menentukan ketepatan kita memilih pemimpin. Jadilah rakyat yang cerdas dan tidak mudah dikadalin sama buaya yang ada di sana. Sebelum menyesal di kemudian hari, segera berbenah dan jadilah orang cerdas. Ingat masa depan bangsa di tentukan juga oleh kita, bukan hanya pejabat doang. 

Sisi Lain dari Kisruh Anas, Sby, Demokrat, dan KPK

Banyak saya mendengar dan melihat dari berbagai sumber tentang masalah yang lagi panas hari- hari ini yaitu penangkapan anas oleh KPK da juga saling serang antara pihak anas dengan pihak sby dan demokrat. Banyak dari semua sumber yang saya baca selalu di ambil dari pihak yang pro dan kontra. Cukup jelas siapa pro siapa dan siapa bela siapa dan itu adalah hal yang lazim dan normal. Cuman sebagai orang awam di dunia politik dan cenderung agak muak melihat masalah di politik yang selalu hubungannya dengan korupsi saya mencoba melihat kasus ini dari sisi saya saja. Saya cenderung tidak melihat pihak mana yang benar dan salah, tapi menurut saya serangkaian kasus dalam sebuah organisasi apapun selalu muncul karena banyak hal dan terlepas dari itu, penyebabnyapun beragam, mulai dari salah arah, salah komunikasi, dan lain sebaginya. Kasus anas, menurut saya semua pihak yang ada di dalam organisasi demokrat salah, tidak sekedar anas dan sby semata. Kenapa? 
  1. Kalau memang anas terbukti korupsi, berarti ada kesalahan mekanisme dalam pemilihan ketua umum di partai demokrat dan tidak bisa kepas dari penasehatnya yang di mana seharusnya penasehat bisa menasehati dalam pengambilan kebijakan dalam pengambilan keputusan. Selain itu juga tidak sejalannya nilai, visi, dan pradigma para pemimpin yang ada sehingga diperoleh seorang pemimpin yang notabene adalah banjingan anggaran. Dan kemungkinan yang lain memang kualitas mayoritas kader memang seperti itu. Contoh yang saya alami di dalam keikut sertaan saya di dalam organisasi excellent leader trainning, setiap ide dan gagagasan yang saya miliki selalu saya koordinasikan dengan teman selevel sebelum diajukan ke ketua, dan ketua yang pastinya akan mendiskusikannya dengan penasehat agar tidak salah dalam tindakan ke depannya.
  2. Kalau anas tidak terbukti korupsi, berarti ada kesalahan fatal dalam sistem manajemen di dalam organisasi yang disebut demokrat ini. Kesalahan apa saja? 
    • Tidak sanggupnya menjalankan dan mengelola manajemen konflik sehingga konflik yang ada sampai berkembang dan mencuat sampai ke publik secara luas.
    • Perekrutan kader dan anggota yang salah, ini terbukti dengan ditangkapnya beberapa kader dari demokrat yang terjerat kasus korupsi. Seperti, nazarudin, angelina sondak, dan lain-lain. 
    • Ketidak becusan penasehat partai karena tidak mampu mempersatukan 2 kekuatan besar yang dimiliki oleh ketuanya dengan pihak penasehatnya. 
    • Terkesan antara penasehat, ketua, pemimpin dan anggota berdiri sendiri dan membentuk suatu blok tersendiri sehingga membuat persatuan di kubu partai sangat buruk. 
    • Terkesan penyamaan visi dan misi yang tidak selaras atau mungkin tidak disampaikan ke seluruh anggota partai. Hal ini dibuktikan dengan iklan partai yang berkata katakan tidak pada korupsi dan dijawab dengan beberapa kadernya yang tersangkut kasus korupsi. 
    • Sop dan pendelegasian tugas yang tidak berjalan, sehingga membuat pengambilan keputusan terkesan asal dan tidak bermutu. 
    • Bisa juga penyampaian informasi yang tidak jelas atau mungkin disengaja tidak jelas sehingga banyak kader yang kader tersangkut korupsi dan bahkan membawa nama pemimpin partainya
  3. Keterlibatan KPK hanya sebatas diperalat suatu pihak untuk mencari siapa yang benar dan salah, tanpa memikirkan solusi yang lebih baik untuk kedepannya. 
Di atas hanya kemungkinan yang bisa saya lihat dari sudut pandang saya sebagai orang awam. Dan segala yang terjadi hanya pihak internal yang tau atau mungkin dengan memanggil konsultan dibidangnya agar bisa mencari di mana letak kesalahannya sampai terjadi seperti ini. Dari apa yang sudah saya utarakan di atas, tidak ada yang benar dan salah. karena semua salah karena memang tidak berjalan dengan baik mekanisme yang harusnya berdasarkan pada pengelolaan manajemen yang baik.