Jumat, 26 Desember 2014

Pancasila Merupakan Implementasi Kasih

Membahas sebuah ideologi itu tentunya sangat luas dan panjang, karena saya yakin tiap orang, organisasi, maupun sebuah Negara meyakini ideologinya masing-masing menurut apa yang mereka yakini benar. Ideologi pada dasarnya tidak untuk diperdebatkan, tapi bagaimana ideologi itu dihidupi untuk suatu tujuan yang lebih baik. Beberapa hari terakhir ini, hal ini yang banyak mengisi perenungan saya.

Dari banyaknya ideologi yang pernah saya tahu, pada dasarnya hanya ada satu yang paling baik dan tidak ada satupun orang yang berani menentangnya, yaitu kasih. Tanpa kasih, sebagus apapun ideologi itu tidak akan pernah bisa mencapai kata sepakat untuk semua orang. Orang akan percaya ideologi itu baik atau tidak bila ada kasih di dalamnya, tanpa kasih ideologi tersebut akan tetap menjadi sebuah hal yang menakutkan. 

Sejarah mencatat banyak hal tentang hal ini. Perang salib sebenarnya bermula dari perang ideologi dari dua kubu yang bertentangan satu sama lain. Atas dasar agama dijadikan sebuah alasan pembenaran atas kesalahan pemimpinnya dalam menerapkan sebuah ideologi, dan hasilnya adalah perang dengan ribuan nyawa mati secara sia-sia. Idelogi dari Hitler di Jerman juga merupakan satu hal yang sama dengan perang salib bukan? Perang atas dasar ideologi. Terakhir yang ada di bumi ini adalah kasus fpi dan isis yang berbuat tidak benar atas dasar ideologinya tanpa ada hal yang baik dihasilkan bukan? 

Siapa suka dengan ideologi semacam itu? Ideologi yang diciptakan pada mulanya adalah baik, tapi membawa dampak merusak dan menghilangkan nyawa demi sesuatu yang katanya baik? Jadi apakah arti sebuah ideologi tanpa kasih? Bagi saya dan mungkin teman-teman, ideologi tanpa kasih hanyalah hal sia-sia bukan? Jadi kalau sia-sia mengapa diperjuangkan? 

Dibalik hal di atas, saya percaya masih banyak ideologi manusia, organisasi, dan Negara yang masih bermuara pada kasih. Berhubung saya sebagai WNI, tentunya akan membanggakan ideologi Pancasila. Sesuai namanya, pancasila mempunnyai lima sila yang begitu dalam maknanya. Sila pertama jelas berbicara KeTuhanan Yang Maha Esa dengan kata lain bermakna kasih kepada Tuhan. Bukankah demikan? Sila kedua berkata kemanusiaan yang adil dan beradab, sila ketiga berkata persatuan Indonesia, sila keempat berkata kerakyatan yang dimpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan, sila kelima berkata keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setuju bila saya bilang dari sila kedua sampai kelima adalah implementasi dari kasih kepada sesama? 

Bagaimana bisa melaksanakan kemanusiaan yang adil dan beradab tanpa kasih? Saya rasa tidak akan pernah bisa, karena sejarah mencatat hal ini. Tanpa kasih tidak akan pernah ada keadilan. Bagaimana bisa mempersatukan perbedaan tanpa kasih? Sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa kasih telah mempersatukan banyak perbedaan. Dalam buku yudi latief dengan judul Negara Paripurna dijelaskan bagaimana perbedaan alot sila pertama akhirnya berakhir. Menurut saya tanpa kasih tidak akan pernah ada pengorbanan untuk meninggalkan idelogi masing-masing demi keutuhan Indonesia bukan? Sama halnya dengan sila keempat dan kelima, bagaimana bisa mewujudkan hal itu tanpa kasih? Ya harusnya semua idelogi harus bermuara pada sebuah idelogi sederhana, yaitu ideologi kasih. 

Banyak orang berkata bahwa bangsa ini disatukan dengan perasaan senasib sepenanggungan dijajah, atas dasar cinta tanah air, dan sumpah pemuda. Ya memang hal itu tidak bisa dipungkiri, tapi dari ketiga hal itu saya yakin bahwa dasar dari semua itu adalah kasih. Perasaan senasib dijajah menumbuhkan rasa saling mengasihi satu sama lain, sehingga perasaan itu yang membuat kita lupa akan perbedaan dan hanya ada satu persamaan, yaitu sakitnya dijajah. Cinta bangsa sangat jelas, bagaimana kita bisa berkata mencintai bangsa tanpa mengasihi orang di dalamnya?. Sumpah pemuda tidak akan pernah mencapai kata mufakat satu bahasa, satu tanah air, dan satu bangsa tanpa adanya kasih, karena sifat kasih selalu mempersatukan perbedaan. Dan sebenarnya bangsa ini terbentuk atas ijin Tuhan dengan sebuah dasar ideologi kasih yang tertuang dalam Pancasila, dan dengan kata lain esensi dari Pancasila adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Menolak Pancasila pada hakekatnya mereka menolak kasih atas dasar ideologi mereka sendiri. 

JADI APAPUN IDELOGINYA, TANPA KASIH SEMUA HANYA AKAN MENJADI PEMICU KONFLIK DAN HAL YANG KURANG BAIK. DAN SAYA BERSYUKUR BAHWA BANGSA INI TERLAHIR DARI SEBUAH IDEOLOGI KASIH YANG TERTUANG DALAM PANCASILA. DENGAN MENOLAK PANCASILA PADA DASARNYA MEREKA SEDANG MENOLAK KASIH DAN OTOMATIS TANPA KASIH, MEREKA SEDANG TIDAK PERCAYA TUHAN. KARENA TUHAN ADALAH KASIH. 


Salam laskar Banyuwangi
God Bless Indonesia

Kamis, 04 Desember 2014

Agama Telah Gagal Mengekspresikan Dirinya

Berbicara agama tentunya kita tidak boleh lepas dari arti kata sebenarnya. Saat saya sekolah dulu, kata agama berasal dari kata "a" dan "gam", yang di mana "a" mempunyai arti tidak dan "gam" mempunyai arti kacau. Jadi arti agama sendiri adalah tidak kacau. Selain itu, tentunya banyak konsep dan pengertian yangbkain tentang apa itu agama, di dalam wikipedia dibahas sangat bagus tentang agama. Dari wikipedia saya simpulkan bahwa sebenarnya agama itu adalah suatu konsep dan sistem yang mengkonekkan antara budaya, adat istiadat, dan kebebasan manusia untuk mengenal Tuhan. Dengan kata lain adalah suatu usaha manusia yang berbudaya, beradat, dan punya kehendak bebas untuk mengatur manusia lainnya dalam pengenalan akan Tuhan yang diatur sedemikian rupa agar tidak menimbulkan kekacauan. 

Suatu konsep dan sistem yang sangat bagus tentunya bila bisa berjalan dengan lancar dan  sesuai dengan konsepnya. Sayang konsep agama yang dimana manusia yang mengatur manusia melupakan hal yang penting dari sifat dasar manusia. Manusia punya kehendak bebas, sifat alami yang tidak mau dipimpin oleh orang dengan kualitas di bawahnya, manusia tidak pernah puas, dan manusia adalah ciptaan Tuhan yang unik dan tidak ada satupun manusia di dunia ini yang sama, baik sifat, sidik jari, dan keinginan. Dengan kata lain adalah manusia tidak akan pernah bisa mengatur manusia lainnya tanpa ada suatu ikatan atau kepentingan. Intinya konsep itu tidak bisa digunakan untuk kepentingan semua manusia dalam satu konsep. Hal inu dibuktikan dengan adanya 4.000 lebih agama di seluruh dunia. 

Dari 4.000 aliran agama tersebut belum lagi memperdebatkan siapa Tuhan, surga dan neraka, asal-usul manusia, dan masih banyak hal tentunya. Belum lagi aliran ateis atau yang tidak percaya Tuhan. Bagaimana konsep atau sistem yang baik demikian bisa mengatur semuanya itu? Tidak akan pernah bisa. 

Agama tidak akan pernah bisa memperjuangkan konsep dan sistemnya dikarenakan agama hanya ogranisasi eksklusif yang mayoritas mengkafirkan, mengahramkan, dan me perlakukan berbeda dengan orang yang tidak sealiran dengan mereka. Sejarah mencatat, banyak agama yang demikian, tidak hanya satu agama saja. Bebrapa contoh perang salib adalah akibat dari agama yang gagal membawa kedamaian, kerusuhan di ambon, dan beberapa daerah di Indonesia juga salah satunya karena agama, dan tentunya masih banyak lagi kejadian, konflik, dan bahkan peperangan karena suatu agama. 

Hal kedua adalah agama sering kali hanya mementingkan dari golongannya tanpa pernah melihat kualitas orang tersebut. Pada jaman ahli-ahli taurat yang mayoritas adalah agama yahudi banyak dihuni orang-orang munafik, tidak berkualitas, dan hanya mementingkan golongannya saja bukan? Belum lagi adalah golongan saduki dan farisi yang hampir sama dengan ahli taurat bukan?. Di jaman sekarang juga berlaku seperti ini bukan? Fpi kumpulan pembuat onar dan SARA mana ada yang berkualitas? Mereka hanya bisa menyerang orang yang berkualitas seperti ahok dengan kafir tidak layak memimpin jakarta bukan? Bahkan terakhir yang saya baca di media sosial adalah komentar salah satu tokoh artis dan juga ulama yang mengatakan bahwa dosa dipimpin orang kafir. Lihat dari jaman dahulu sampai sekarang, agaman hanya diisi orang-orang bodoh yang tidak mengerti bagaiaman memimpin dengan kualitas yang baik. Korupsi, kolusi, nepotisme, dan pelanggaran ham berat seakan diijinkan asal tidak beda dengan mereka. Orang yang tidak korupsi, tidak kolusi, tidak nepotisme, berjuang untuk rakyat, membela kebenaran seakan diharamkan jadi pemimpin kalau berasal dari golongan yang berbeda dengan mereka. Belum contoh yang tentunya bisa dengan mudah kita temui di google. 

Hal ketiga adalah agama adalah tempat paling subur bagi kumpulan orang munafik. Beberapa konsep dari agama adalah mengenal siatem ketokohan yang dianggap orang yang benar dan suci. Sehingga banyak dari tokoh ini akan berusaha menjaga image di depan umum dan belum tentu sama pada saat dia sendiri atau sama dengan teman-temannya. Contoh ahli taurat, fpi, dan banyak tokoh-tokoh agama di dunia bukan? Lihat foi yang selalu memeriakkan "Tuhan Maha Besarnya" yg dalam bahasa arab. Tp lihat aja kasus play boy Indonesia yang di mana pemilik play boy Indonesia membongkar munafiknya kelakuan tokoh-tokoh fpi, belum lagi kemunafikan yang lainnya. Tokoh-tokoh agama juga begitu kan? Berapa banyak tokoh agama yang menipu, mengajak orang-orang yang seharusnya dibimbing malah jadi korban nafsu biadabnya? Setelah berbuat jahat, tidak diakui dan tampil di muka umum dengan tampang tidak berdosanya. 

Banyak orang berdalih itu hanya sekedar oknum, tapi masalahnya adalah oknumnya banyak sekali. Logikanya kalau memang itu oknum, harusnya sedikit pelakunya bukan? Sama dengan kasus korupsi di Indonesia, kalau oknumnya sebanyak ini apa tidak bisa disebut sebagai kegagalan sistem?. Kembali ke agama lagi, banyaknya oknum merupakan kegagalan sistem agama yang dikemas baik tersebut hanya sebagai kedok belaka. Itulah kenapa ini saya sebut kegagalan sistem, bukan hanya sekedar oknum. Kegagalan sistem bisa saja dikarenakan salah mengenal Tuhan, salah mengenal perintah Tuhan, dan hanya dari keegoisan manusia semata yang punya kehendak bebas. Karena yang saya tangkap dari kitab suci yang saya yakini, Tuhan tidak pernah membuat konsep agama untuk menyagakan kasihNya, janjiNya, atau apapun yang berhubungan denganNya. Setahu saya,Tuhan bukanlah pribadi yang ingin menyatakan kasihNya, cintaNya, janjiNya, dan semua yang berhubungan denganNya kepada manusia tertentu, tapi Tuhan yang ingin aemua manusia mengenalNya. Dan agama tidak bisa menjawab itu semua, karwna agama tidak mengenal semua orang dan bisa mengkonekkan semua orang kepada Tuhan sang pencipta langit dan bumi.

JADI AGAMA SUDAH GAGAL DALAM MENDIRIKAN "DINASTINYA" SENDIRI KARENA MUNCUL LEBIH DARI 4000 DINASTI YANG TIDAK MUNFKIN DISATUKAN. AGAMA MENJADI SALAH SATU BIANG KEROK KONFLIK, MASALAH, DAN BAHKAN PEPERANGAN BESAR DI DUNIA, YANG DI MANA BISA DIKATAKAN TIDAK ADA KASIH. SEDANGKAN TUHAN SANGAT MERINDUKAN YANG NAMANYA KESATUAN, KEDAMAIAN, DAN KASIH. HANYA ORANG YANG MENGENAL TUHANNYA YANG TAHU APA ITU KASIH, DAN SEMUA SIFAT TUHAN DI DALAMNYA. KENALI SIAPA TUHANMU, BUKAN KENALI DAN BAHKAN BELA AGAMAMU YANG SUDAH GAGAL MENGEKSPRESIKAN SIAPA DIRINYA DENGAN BENAR.

Salam damai dan Tuhan memberkati Indonesia,
Laskar Banyuwangi


Selasa, 02 Desember 2014

Pegunungan Ijen antara Kekayaan, Sosial Masyarakat Desa, dan Fakta yang Menyedihkan

Tepat 1 minggu lalu, saya beserta beberapa teman pergi ke sebuah kawasan wisata yang mulai terkenal karena api birunya yang tak kunjung padam. Sebuah pesona wisata gunung ijen yang sudah mulai tersohor di mancanegara. Tepat jam 11 malam kami tiba di sana sambil bingung mecari tahu arah menuju puncak karena itulah kali pertama kami menuju tempat itu. Setelah beberapa saat kami bertemu dengan tiga penambang belerang yang merupakan penduduk lokal daerah ijen yang memang pekerjaan utama mereka adalah penambang belerang. Setelah ngobrol, akhirnya mereka bersedia mengantar kami ke puncak dan bahkan sampai ke area api birunya. 

Setelah bergegas akhirnya sekitar 11.30 kita mulai menaiki menuju puncak salah satu gunung dengan kawah terbaik di dunia tersebut. Di perjalanan kami lebih banyak ngobrol dan bergurai baik dengan teman ataupun dengan bapak penambangnya. Kami banyak bertanya banyak hal terutama tentang keadaan di ijen dan kebiasaan mereka dan tentunya tentang belerang itu sendiri. Dari percakapan kami, ada beberapa hal yang mungkin bisa saya ceritakan di dalam blog ini untuk melihat salah satu kehidupan masyarakat Indonesia yang minim fasilitas yang bagus. 

Hal pertama yang saya lihat pada saat datang ke ijen adalah handphone, yang dimana secara mengejutkan tidak ada sinyal sedikitpun dari provider terbaik Indonesia yang di mana sinyalnya paling kuat. Ya tidak ada sinyal, sehingga saya putuskan tinggalkan handphone di mobil. Hal kedua adalah dengan mempersiapkan perbekalan seperti makanan dan minuman, karena hampir muatahil mendapatkan makanan dan minuman di sana di malam hari. Satu-satunya kantin yang bukapun hanya beroperasi di pagi hari, itupun hanya menu cepat saji yang tidak mengenyangkan. 

Persiapan selesai, kita gambarkan bagaimana kondisi masyarakat di sana. Mayoritas penduduk di sana adalah penambang belerang, itu bukan berarti tidak ada pekerjaan lain, tetapi karena itulah pekerjaan dengan hasil paling tinggi bagi mereka. Di sepanjang perjalanan saya masih bisa melihat ada yang budi daya madu, toko kelontongan, guest house, dan warung. Itu membuktikan bahwa perkataan bapak yang bersama kami benar adanya. Dalam prinsip bisnis menganut resiko besar, keuntungan besar tampaknya berlaku bagi para penambang di sana yang berjumlah sekitar 300 orang. Setiap hari mereka memanggul belerang satu sampai dua panggul belerang yang berisi 50-100kg setiap panggulnya menurut kesanggupan fisik mereka hari itu. Dengan pendapatan terbesar di sana, resiko yang dialami penambang adalah kerusakan paru-paru akibat menghirup asap belerang setiap hari. Resiko yang besar bukan? 

Secara matematis menurut saya keuntungan yang di dapat dan resikonya tidak sebanding bila dibandingkan dengan para penampung belerangnya tentunya. Saya kurang paham bagaimana seluk beluk tentang bisnis belerang, tapi saya rasa apa yang masyarakat sana rasakan tidak adil. Dari informasi yang saya dapat dari mereka, harga belerang yang mereka tambang hanya sebesar Rp. 900 per kgnya. Anggap saja mereka setiap hari mampu membawa dua panggul dengan berat masing-masing 70kg, maka setiap hari mereka bisa membawa uang Rp. 126.000. Berarti dalam satu bulan pendapatan mereka berkisar Rp. 3.780.000 bila dihitung dalam 30 hari kerja. Apakah uang segitu sebanding dengan pengorbanan mereka yang rela paru-parunya makin lama makin rusak? Satu yang saya lupa tanyakan adalah bagaimana nasib mereka yang paru-parunya sudah rusak, masih tetap menambang demi sesuap nasi atau beralih ke pekerjaan lain, atau mendapatkan asuransi kesehatan? 

Dan ditengah banyaknya pertanyaan, terselip pertanyaan saya tentang kenaikan harga minyak ke mereka, dan jawaban mereka membuat saya terkejut. Mereka tidak ambil pusing mau naik atau turun, bagi mereka bekerja dan bekerja itu jauh lebih penting. Bagi mereka satu hari tidak menambang, berarti satu hari pula mereka tidak mendapatkan uang dan mungkin bisa saja bingung memberi istri dan anak makan. Suatu kehidupan masyarakat desa yang luar biasa. Suatu desa dengan sumber kekayaan hebat yang harusnya bisa mensejahterakan masyarakat di sini dengan tidak menggantungkan pada hasil tambang belerang. 

Sepanjang perjalanan dari titik start ke lokasi api biru dan kembali ke start lagi, ada ratusan wisatawan datang silih berganti baik dari Indonesia dan luar Indonesia. Ingat bahwa ijen menjadi salah satu tujuan wisata yang lagi menarik bagi wisatawan seluruh dunia karena apa yang terdapat di sana. Harusnya alternatif pariwisata bisa menjadi sumber penghasilan lain bagi penduduk di sana. Peningkatan infrastruktur dan fasilitas yang baik, tentunya akan diikuti minat investor untuk mengembangkan daerah itu dan menambah jumlah lapangan pekerjaan baru. Karena saya lihat satu-satunya penginapan di area aman hanya milik pemerintah yang masih menunggu peresmian dari menteri kehutanan. Memang ijen merupakan cagar alam yang harus dilindungi, tentunya pemerintah lewat menteri kehutanan bisa mengukur berapa banyak investor yang boleh masuk dan mau mengembangkan apa. Karena bagi orang pecinta travelling macam saya hanya menikmati apa yang Tuhan sudah sediakan bagi Bangsa ini untuk dikembangkan. 

Mau tidak mau, pemerintah harusnya mulai memaksimalkan ke arah pariwisata. Ingat, bahwa tanpa disadari, ijen sudah masuk dalam salah dari sepuluh kawah terbaik di dunia. Yang pasti tentunya akan membawa daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Belum lagi area api biru alamnya yang juga layak untuk diperhitungkan, dan tentunya matahari terbit adalah hal yang sangat bagus dinikmati di ketinggian lebih dari 3.000 dpl tersebut. 

KESERIUSAN PEMERINTAH DALAM MEMAKSIMALKAN POTENSI WISATA DI IJEN AKAN MEMBUAT ALTERNATIF PEKERJAAN YANG LEBIH MANUSIAWI BAGI PENDUDUK DI SINI DAN JUGA MENJAUHKAN DARI RESIKO BESAR KERUSAKAN PARU-PARU. MAU TIDAK MAU, PERCAYA TIDAK PERCAYA, SUKA TIDAK SUKA, IJEN SUDAH MENJELMA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DUNIA, BUKAN HANYA SEKEDAR LOKAL BANYUWANGI ATAUPUN INDONESIA. 



Salam damai dan God bless Indonesia
Laskar Banyuwangi

Rabu, 19 November 2014

Tuhan Bisa Lindungi Dia, Asal Dia Tetap Jujur

Sore tadi saya baca di jawapos online yang memuat kisah dari seorang ibu gubernur DKI yang dikenal dengan nama ahok. Ada kata-kata yang menggangu saya untuk saya renungkan dalam beberapa jam ini. Kata yang saya maksud adalah perkataan dari sang ibunda dengan pasrahnya berkata bahwa "Tuhan bisa melindungi ahok, asal ahok tetap jujur". Kata-kata sederhana yang menggangu otak saya untuk tidak bisa berhenti memikirkan perkataan sederhana yang punya arti dalam. 

Seorang ibu dengan usia yang tidak muda lagi, yang dimana anaknya sedang dalam dunia yang begitu keras dengan musuh yang tidak sedikit dari kalangan DPRD, FPI, dan juga kepentingan yang lain. Perkataan yang seolah sang ibunda pasrah karena tidak bisa berbuat apa-apa dihadapan musuh anaknya, dan juga lagi melibatkan sebuah kekuatan sang empunya kehidupan, yaitu Tuhan yang beliau yakini ada. Dengan kata lain sebuah perkataan kuatir dan pasrah akan apa yang mungkin sedang terjadi akan anaknya yang memang bukan di luar kehendak dan kemampuan beliau sebagai manusia biasa. Sekilas seperti itulah yang saya tangkap dari perkataan beliau. 

Setelah saya gali lebih dalam lagi sesuai kapasitas yang saya miliki, saya temukan beberapa sebab kenapa beliau berkata seperti itu di depan awak media. Hal pertama adalah beliau kenal siapa Tuhannya. Saya yakin bahwa orang yang kenal siapa Tuhannya tidak akan ragu berkata seperti itu walaupun terkesan pasrah, karena Tuhan adalah benar dan adil, Dia pasti berada pada pihak orang benar. Orang yang tidak mengenal Tuhan secara penuh pasti akan kuatir, tidak nyaman, tidak merasa aman dalam kondisi seperti yang terjadi dalam diri ahok. Musuh banyak, nyawa bisa saja terancam, dan mungkin saja keluarga bisa menjadi korban yang kurang baik. Tapi, Tuhanlah pelindung kebenaran dan semua kekuatiran kekiatiran tentang keselamatan ahok diluar kendali dan wewenang manusia, itulah mengapa perkataan itu begitu dalam. 

Hal kedua adalah beliau begitu tahu tentang janji Tuhan yang pasti bersyarat. Kisah ahok seakan terinspirasi dari kitab Matius 28:19-20 dan juga markus 16:15-19. Ahok pernah berkata "karena Yesuslah beliau tidak pindah agama". Kata Yesuslah injil itu, jadi pada saat  injil (Yesus) diberitakan, maka otomatis penyertaan Allah ada dalam diri orang tersebut. Tuhan bukanlah pribadi yang pendusta, jadi pada saat syarat dari janjiNya dijalankan, maka otomatis janji itu akan dilaksanakan saat itu juga. Ada janji Tuhan yang menarik, yaitu bahkan meminum racun mautpun tidak mendapat celaka. Dengan otomatis pada saat kehendak Tuhan dijalankan dan otomatis penyertaan Tuhan juga mengikuti. Dan masalah hidup atau mati adalah urusan belakang, bukankah mati adalah keuntungan?. Ingat..!! Pernyertaan Allah selalu ada dalam orang yang bedara dalam kehendak Allah yang sedang berada dalam "medan perang" bukan dalam kondisi nyaman, aman dan santai. 

Hal ketiga adalah beliau kenal siapa anaknya dan seperti apa kualitasnya. Karena ahok berkualitas dan jujur, itulah mengapa sang ibunda begitu yakin bahwa Tuhan akan melindunginya. Anti korupsi, kerja yang berani memecat pegawai negeri yang bekerja buruk, tegas, berintegritas, dan keluarga yang harmonis menjadi modal ahok untuk jadi garam dan terang dunia. Dan lagi-lagi karena kualitasnya, dunia mengenal siapa Yesus yang ada di dalam diri ahok, tanpa perlu ahok berkoar-koar apa agamanya. Karena saya yakin bahwa ahok adalah orang yang lebih mementingkan Tuhan daripada agamanya. Karena kata "mati adalah keuntungan" yang sering diucapkan ahok bukanlah kata yang bisa diucapkan orang beragama, tapi hanya yang kenal siapa Tuhannya. 

Hal keempat adalah ibu ahok adalah seorang pemimpin yang tahu bagaimana mengarahkan anaknya berada pada posisi yang tepat dan visi yang jelas sehingga kemaksimalan bisa tercapai lewat kehidupan ahok. Seorang ibu yang sengaja memberikan iji dan restu kepada anaknya untuk terjun ke dalam dunia yang kejam, jahat, dan kelam dengan resiko yang bisa saja buruk. Sayangnya sejarah mencatat bahwa karir ahok di dunia politik begitu panjang dari DPR, Belitung Timur, dan sampai ke DKI. Tanpa restu dari ibunya, rasanta akan mustahil seorang ahok bisa maksimal berada di dunia politik ini yang dimana kondisinya banyak yang tidak suka dengan ahok. Saya yakin bahwa karena talenta yang Tuhan beri ke ahok ada di politik, dan sang ibunda begitu mengenal anaknya sehingga tanpa ragu restu ibu diberikan dan kehidupan ahok begitu luar biasa.

HANYA ORANG YANG KENAL SIAPA TUHANNYA, MEMPUNYAI KELUARGA YANG KUAT DI DALAM TUHAN, DAN MEMAKSIMALKAN TALENTANYALAH YANG AKAN BISA MEMBUAT DUNIA BERGONCANG DENGAN KUALITAS KEBENARAN YANG DIHIDUPINYA. KELUARGA YANG KUAT HARUSNYA BISA MENDORONG ANAKNYA MENGENAL SIAPA TUHAN DAN TALENTANYA. 

Salam damai dari Laskar Banyuwangi
God bless Indonesia

Selasa, 28 Oktober 2014

Sebuah Perenungan, Kerinduan, Kegalauan, dan Kebenaran yang Berkecambuk Menjadi Satu

Sebenarnya saya sempat bimbang mau menulis hal ini atau tidak karena beberapa faktor yang tidak bisa saya sebutkan. Saya tulis hal ini karena menurut saya sudah bukan hal yang untuk bisa disikapi dengan santai, kalem, asal selamat, dan takut ada yang sakit hati. Karena selalu yang menjadi bahan diskusi saya dan orang tua sekitar 2 tahun ini, dan saya rasa saya sudah sangat bosan menanggapi hal ini. Karena apa yang saya tahu sudah saya keluarkan dan bagikan, masalahnya adalah bagaimana mengaplikasikannya apapun resikonya. 

Ya jujur saja yang saya maksud adalah gereja. Sejak saya keluar dari Surabaya, belum pernah menemukan gereja seperti di mana saya dimuridkan. Dari apa yang telah saya dapat dari Surabaya, saya selalu melihat 4 hal penting bagi saya untuk memutuskan untuk terlibat lebih jauh di dalamnya untuk benar-benar habis-habisan dengan Tuhan atau hanya diam dan bahkan keluar. 

Hal pertama yang saya lihat adalah VISI. Visi adalah hal yang sangat penting karena tanpa visi, gereja tidak akan pernah tahu arah dan tujuannya. Bahkan dalam amsal 29:18a mengatakan bila tidak ada wahyu, menjadi liarlah rakyat. Dalam terjemahan bahasa inggris, kata wahyu sangat jelas ditulis dalam sebuah kata visi. Dengan kata lain, tanpa visi rakyar menjadi liar. Gereja tanpa visi menjadikan orang di dalamnya liar. Yang jadi masalah adalah visi yang seperti apa? Sudah sangat jelas sebuah visi haruslah bentuk dari manivestasi kerajaan Allah dan Tubuh Kristus secara utuh di jaman ini. Untuk lebih jelas harusnya pemimpin duduk bersama, diskusi bersama, dan berdoa bersama untuk menangkap apa visi yang Tuhan mau, bukan yang jemaat mau. Pada saat visi didapat, carilah orang yang mau berjuang untuk visi itu berapapun jumlahnya. Tanpa kemauan, 1.000 orang tidak akan punya arti dibanding dengan 10 orang yang mau untuk itu. Dengan kata lain pilih 10 atau tinggalkan yang 1.000. Bukankah Yesus melakukannya? Kalau yang 1.000 sakit hati bagaimana? Ngambek bagaimana? Kalau saya jawab biarin, emang gue pikirin. Daripada Yesus sakit hati dan ngambek bagaimana? Pilih yang mana? Kalau saya jelas pilih yang sedikit asal mau, daripada banyak tapi tidak berdampak apapun. 

Hal kedua yang saya lihat adalah VALUE. Mengapa value penting? Menurut saya value itu semacam pagar supaya kita tidak melenceng dari visi yang ada. Value harusnya mempertajam visi agar kehendak Allah di jaman ini tergenapi. Value kalau saya analogikan seperti seorang yang menyetir misal Banyuwangi ke Surabaya. Surabaya adalah visi atau tujuannya, value itu adalah rambu lalu lintasnya agar kita bisa sampai Surabaya dengan benar. Benar berarti tidak melakukan pelanggaran peraturan lalu-lintas ataupun peraturan lainnya yang tertuang di dalam hukum yang tertulis. 

Ketiga yang saya selalu cari adalah KOMUNITAS. Sejak pertama kali saya bertobat dan menerima Yesus sebagai juru selamat, komunitas sudah menyambut dan tanpa disadari itu sudah menjadi gaya hidup yang tidak akan pernah saya tinggalkan. Dalam kondisi dan pilihan yang sulit antara meninggalkan ibadah hari minggu atau komsel, maka dengan tegas, tanpa dipikir lagi, tidak perlu pewahyuan, dan nubuatan, maka dengan sangat rela, iklas, dan tanpa paksaan akan pilih komunitas dan meninggalkan ibadah hari minggu. Sebegitu pentingnya komunitas sampai Yesus harus datang untuk memberi sebuah teladan dengan hanya 12 murid. Yesus dengan rela meninggalkan 5.000 orang hanya demi 12 orang murid yang jauh lebih sedikit jumlahnya. Dan bahkan kalau kita teliti alkitab, gaya hidup jemaat mula-mula juga berkomunitas. Karena dibesarkan dan dididik secara komunitas dan juga kebenaran yang saya yakini benar, itulah mengapa saya tidak pernah bisa lepas dengan yang namanya komunitas. 

Keempat dan yang paling terakhir adalah PESAN MIMBAR. Bagi saya pesan mimbar adalah cerminan paling mudah untuk melihat sebuah gereja memiliki visi atau sekedar slogan, value yang benar atau tidak, dan berada pada kehendak Allah atau tidak. Waktu 1 tahun, bagi saya waktu yang sangat cukup untuk mengambil kesimpulan bagaimana gereja itu hanya dari pesan mimbar. Suatu hal yang aneh bila gereja mempuyai visi, tapi tidak pernah menyuarakan itu di ibadah, suatu keanehan bila pesan mimbar tidak punya konsep yang jelas dalam yang disampaikan. Hal ini sebeneranya value gereja tersebut dipertanyakan. Kualitas pesan mimbar menentukan kualitas pemimpin di dalamnya dan semua produk di dalamnya secara utuh. 

Tanpa ke empat hal di atas tidak tercapai, maka bisa dipastikan bahwa gereja tersebut tidak pada jalan yang semestinya dan tidak perlu buang tenaga di sana. Karena bagi saya hanya ada dua pilihan, yaitu panas atau dingin. Kata suam-suam kuku itu tidak berusaha saya kenal. Dan kabar buruknya, saya pilih panas. Jadi kalaupun tidak saya temukan di gereja untuk saya masuk ke dalam apa yang saya rindukan, dengan tanpa ragu saya siap keluar dari gereja dan bergerak di luar gereja. Bukankah esensi gereja bukan merek, sinode, gedung, dan liturginya? Toh kalau Yesus tidak pernah pusing dengan itu semua, kenapa saya harua pusing dengan hal yang tidak esensi itu? Dan saya rasa sepertinya saya akan kawin dengan sebuah kata sesat akan hal ini, dan bukankah Yesus juga di anggap sesat oleh orang beragama? 

JADI, VISI, VALUE, KOMUNITAS, DAN PESAN MIMBAR PERLU DIPERHATIKAN SECARA SERIUS DAN CARI ORANG YANG BENAR-BENAR MAU. KARENA BAGAIMAPUN GEREJA HARUS MENJADI PENCARI DAN PENYELESAI KEHENDAK TUHAN DI JAMANNYA, BUKAN KEHENDAK SEMUA JEMAAT. YESUS TIDAK PERNAH BISA MEMENUHI SEMUA KEHENDAK MANUSIA, TAPI YANG YESUS LAKUKAN ADALAH MELAKUKAN KEHENDAK BAPA DAN MENYELESAIKANNYA. HOW ABOUT US?? 


Sebuah kisah dari apa yang saya renungkan akhir-akhir ini.
Salam, Laskar Banyuwangi
God Bless Indonesia

Kamis, 16 Oktober 2014

Kehadiran Terang Mengalahkan Gelap

Dari sejak pertama saya bertobat sekitar 2002 sampai sekarang, sudah sangat sering mendengar kotbah dan diskusi tentang garam dan terang dunia. Dari situ membuat saya merenung jauh ke dalam tentang apa itu terang dunia sebatas kemampuan saya melihatnya. Sebelumnya dalam injil Yohanes 1:9-10 sangat jelas dikatakan bahwa Terang itu adalah Tuhan itu sendiri dengan lebih detail apa yang dimaksud Yohanes pembaptis adalah Yesus sendiri. Sudah sangat jelas bukan?

Pada saat Yesus ada di dunia, dengan jelas injil Matius 5:14 mengatakan kamu adalah terang dunia. Dari ayat itu sangat jelas bahwa Yesus memberikan status dan juga fungsi sebagai terang dunia kepada murid-muridNya. 

Ada hal yang menarik dalam hal ini, Tuhan sadar bahwa kita anak-anak Allah dan juga Tuhan tidak dikenal dunia. Berhubung itulah Tuhan dengan sadar memberi kita sebuah senjata yang hebat, yaitu kuasa dan perlindungan. Hal ini sangat jelas tercatat di dalam kitab Kisah Rasul 1:8 dan juga Matius 28:19-20. Dalam 2 ayat itu ditulis bahwa kita akan menerima kuasa kalau Roh Kudu turun atas kita dan juga perintah amanat agung selalu berujung kepada penyertaan Tuhan sampai kepada akhir jaman. Dengan kata lain tugas kita untuk menjadi terang dunia sudah terbantu dengan kuasa dan perlindungan yang Tuhan beri secara cuma-cuma, tinggal kita mau atau tidak mempraktekkannya. 

Yang jadi persoalan sekarang terang yang bagaimana dan di mana kita sekarang? Kembali ke Matius 5:14. Ada hal menarik menurut saya, setelah menjelaskan status kita sebagai terang dunia, Tuhan memberikan sebuah hal lain lagi, yaitu kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Itu merupakan ilustrasi yang sangat bagus dari Tuhan.  Pada saat terang itu bersinar, maka dampaknya adalah kota itu terlihat seperti kota di atas gunung yang terang sehingga sangat tampak dilihat dari bawah. Berarti bisa disimpulkan bahwa terang harusnya hadir minimal disebuah kota di mana Tuhan tempatkan. 

Berbicara kota tentunya terlalu luas dan kompleks, sehingga perlu hal lain yang disorot agar bisa lebih baik. Di dalam sebuah kota tentunya ada bagian-bagian dari kehidupan bermasyarakat yang bermacam-macam, misal mencakup masalah kesehatan, ekonomi, seni dan budaya, politik, pendidikan, dan masih banyak hal lagi tentunya. Saya percaya bahwa setiap terang pasti diberi Tuhan minimal 1 talenta sama dalam kisah perumpamaan talenda di Injil Matius 25. Misal talenta seorang musisi, buatlah musik yang memancarkan terang, bukan musik yang bernadakan galau dan masalah yang tidak mendidik, kalau pebisnis, berbisnislah dengan cara yang Tuhan mau. Kalua pengajar, jadilah guru yang bisa menciptakan anak didik yang berkualitas. Pada saat semua aspek kehidupan dikuasai terang, apa mungkin kegelapan bisa berkuasa lagi? Sedangkan gelap bukan lawan berarti terang. Dari hal ini saya membayangkan kalau semua aspek kehidupan dikuasai terang, apa ini bukan sama seperti yang Yesus doakan supaya Tubuh Kristus menjadi satu seperti di dalam Injil Yohanes 17, dan apakah tidak mungkin transformasi terjadi tanpa harus mengeluarkan dana besar untuk KKR? 

Contoh nyata bisa dilihat dari kehidupan Kaka yang di mana dari dia, dunia sepak bola dihebohkan dengan gaya hidupnya yang luar biasa. Di saat dunia malam dan sex bebas menjadi gaya hidup pemain bola pada umumnya, sebuah terang muncul dengan gaya hidup yang berbeda. Kaka menjadi laki-laki idaman banyak wanita, tak jarang banyak selebriti kelas atas dunia mengajaknya berkencan, tapi dengan tegas Kaka berkata tidak dan tetap setia pada pasangannya. Bukankah itu tandanya terang tidak bisa kalah dari gelap? Contoh lain tidak perlu jauh, kita ambil saja Ahok. Dimana seorang Ahok berani tampil beda dengan konsisten pada apa yang dia perjuangkan tetang keadilan sosialnya. Disaat terang muncul, gelap tidak suka dna berusaha melawan dan bisakah gelap menang? Ahok sudah membuktikannya bukan? Coba banyangkan kalau semua terang mengembangkan setiap talenta yang didapat dan dilepas di tengah kota. Apa bisa gelap berkuasa atas kota? 

Masalahnya adalah beranikah gereja melepas orang-orang terbaiknya untuk kota sesuai kapasitas yang Tuhan percayakan kepadanya? Tanpa ada terang di kota otomatis sebuah kota akan tersembunyi dan gelap akan berkuasa. Jadi bukan salah gelap bila kegelapan berkuasa atas aspek yang ada di dalam masyarakat, tapi semua itu adalah kesalahan terang yang tidak mau masuk ke dalam gelap untuk mengalahkannya. Karena kuasa dan perlindungan Tuhan itulah yang memampukan kita menang atas gelap, karena terang sebenarnya adalah Tuhan sendiri. Karena kita berada di dalam rencana Tuhan itulah otomatis kemenangan ada dipihak kita, karena Tuhan selalu beserta dalam hidup orang yang memancarkan terang. 

JADI, TERANG ADA UNTUK MENGALAHKAN GELAP. KARENA PADA SAAT TERANG ITU HADIR OTOMATIS GELAP AKAN LENYAP DENGAN SENDIRINYA. HAL INI TERGANTUNG KITA SEBAGAI TERANG MAU ATAU TIDAK MASUK DI DALAM GELAP DENGAN RESIKO MENJADI MUSUH GELAP. DAN KETAHUILAH PENYERTAAN TUHAN ADA BAGI TERANG YANG SIAP MENYINARI KOTA

God Bless Indonesia
Salam Laskar Banyuwangi

Rabu, 15 Oktober 2014

Kebudayaan dan Iman Kristen

Kebudayaan bukanlah hal yang asing dan baru bagi kita sebagai orang kristen bukan? Ya, saya rasa juga begitu, bahkan sejak kita menginjakkan kaki di dunia pendidikan, kita sudah berada dibawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan tanpa disadari, disekeliling kita banyak juga hasil peninggalan budaya yang bernilai seni dan kekayaan yang seharusnya bagus bagi bangsa Indonesia. Banyuwangi bisa menjadi contoh bagus dalam hal ini, selain Bali. Baik peninggalan kerajaan Blambangan, seni tari, dan masih banyak lagi yang tersimpan di dalamnya, semua sudah menjadi satu dengan kehidupan bermasyarakat dan bahkan kekristenan. Masalahnya adalah salahkah kebudayaan menurut iman kristen? Lalu bagaimana respon kita terhadap kebudayaan sebagai wujud iman kristen?

Sebelum bahas hal itu coba kita lihat dalam alkitab bagaiman proses kebudayaan berjalan begitu baiknya tanpa ada perdebatan berarti di dalamnya. Saya tidak akan membuka banyak ayat karena ini hanya sebuah artikel sederhana saja, tapi saya akan bercerita saja menurut apa yang saya pahami. Ada hal yang unik dari proses munculnya budaya di alkitab. Pertama Tuhan memberi perintah begitu detailnya untuk membangun bait Allah, dan juga kapal Nuh. Di satu sisi Tuhan juga memberi perintah yang tidak begitu jelas, hanya sebatas buatlah mezbah sebagai peringatan akan Allah (kejadian 12:7; kejadian 35:1). Bukankah peninggalah kapal Nuh, bait Allah, dan mezbah merupakan hasil budaya bila sekarang masih ada? Bukankah bentuh mezbah yang ada sesuai dengan imajinasi tokoh pembuatnya pada masa itu? Ya itulah budaya yang saya pahami. Sebagai contoh lain adalah bagaimana seorang raja Daud menjadi musisi handal dengan permainan kecapinya. Bukankah kecapi juga merupakan hasil dari sebuah budaya ciptaan manusia? Dan yang uniknya adalah Tuhan tidak pernah memaksakan bahwa kekristenan hanya boleh bermain kecapi dan alat musik di jaman itu atau peninggalah bangsa israel semata. 

Tanpa kita sadari tata cara ibadah kristen sekarang adalah hasil dari sebuah budaya barat dengan alat-alat musiknya bukan? Coba bandingkan dengan tata cara tata ibadah kristen ortodok yang mengadopsi budaya timur tengah. Adakah yang salah dengan dua contoh budaya di atas dengan iman kita sebagai orang kristen? Saya rasa tidak ada yang salah selama Yesus sebagai pusat(kepala) tidak dihilangkan. Contoh menarik bisa kita lihat dari seorang Paulus dalam kitab Kisah Rasul 17:16-34, yang di mana kisah ini menceritakan perjalanan Paulus di Athena, Yunani yang di mana adalah pusat pemujaan dewa-dewa. Dan diceeitakan bahwa Paulus diundang dan berbicara di aeropagus. Di sana diceritakan bahwa Paulus berjalan-jalan di dalam kuil pemujaan dewa sampai ditemukan sebuah kalimat "kepada allah yang tidak dikenal". Paulus tidak akan pernah bisa menginjil dengan baik kalau tidak menemukan sebuah "jembatan" yang didapatnya dengan berkeliling di kuil-kuil pemujaan dewa-dewa tersebut. Dan uniknya Tuhan tidak mempermasalhkan hal itu, karena sebenarnya kebudayaan bukanlah penghalang untuk bertumbuhnya kekristenan, justru menjadi hal yang baik dalam memajukan kekristenan dengan jalan masuk kedalam kebudayaan yang ada. 

Hal ini justru terbalik dengan apa yang saya jumpai beberapa minggu lalu secara nyata. Anak pemuda saya di gereja lokal sekolah di banyuwangi kota dan tergabung dalam sebuah pelayanan di suatu kegerakan, sebut saja namanya x. Di dalam pelayanan tersebut, anak pemuda saya tidak boleh ikut pelayanan tersebut karena pernah ikut menari dalam tarian tradisional Banyuwangi. Mereka berdalih bahwa anak pemuda saya najis, tidak kudus dan apalah itu, karena bagi mereka tarian itu tarian perzinahan dan najis. Belum lagi saya pernah baca buku salah satu pendoa terkenal di Indonesia yang mengahramkan musik rock, karena dianggap musik pemujaan setan. Ada yang aneh bila kekristenan menetang suatu budaya setempat kalau mau masuk ke dalam sebuah kota, padahal lewat  budayalah gereja bisa dengan leluasa menyebarkan Injil Kristus seperti apa yang dilakukan Paulus di Anthena. 

Dari apa yang saya lihat dari dua kasus di atas, gereja begitu ketakutan akan munculnya budaya-budaya yang dijadikan pemujaan setan. Bukankah kita diberi kuasa untuk mengalahkan itu semua? Kenapa banyak kebudayaan dikuasai kuasa gelap? Karena tidak adanya anak-anak Allah yang mau masuk di sana dan memperagakan kuasa untuk mengalahkan kuasa gelap. 

JADI, KEBUDAYAAN MENJADI MILIK GELAP ATAU ALLAH TERGANTUNG SIAPA YANG ADA DI DALAMNYA, BUKAN KARENA BUDAYA GELAP DAN BUDAYA TERANG DIPISAHKAN DARI AWAL. 

God Bless Indonesia
Salam Laskar Banyuwangi